MENGGUNAKAN METODE LATIHAN DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS III MENGGUNAKAN KALIMAT TANYA DI SDN 2 KALEKE TAHUN PELAJARAN 2017/2018

MENGGUNAKAN METODE LATIHAN DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS III MENGGUNAKAN KALIMAT TANYA DI SDN  2 KALEKE TAHUN PELAJARAN 2017/2018

USING THE EXERCISE METHOD IN IMPROVING THE ABILITY OF CLASS III STUDENTS USING THE QUESTION IN SDN 2 KALEKE STUDY YEAR 2017/2018

 

MENGGUNAKAN METODE LATIHAN DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS III MENGGUNAKAN KALIMAT TANYA DI SDN 2 KALEKE TAHUN PELAJARAN 2017/2018

 

 

Sri Wahyuni

SD Negeri 2 Kaleke Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah

 

 

ABSTRACT

The main problem in this study is the low ability of students to use question sentences in class III of SD N 2 Kaleke, Sigi Regency. The purpose of this study was to improve the ability of students to use question sentences through training methods in class III SDN 2 Kaleke. This research is a class action research which refers to the research model proposed by Kemmis and Mc. Taggart consists of four components, namely planning, action, observation and reflection. The results of the first cycle of research obtained the results of classical learning completeness only reached 5.73%. This means that the action in the first cycle has not been successful. While the implementation of the second cycle obtained classical learning completeness reached 8%. This means that the implementation of the second cycle was successful, because the percentage of completeness in classical learning had reached the Minimum Ketuntsan Criteria, namely 75. Thus the conclusion of this study was that the training method had a positive impact on students' ability to use question sentences in third grade students of SDN 2 Kaleke which showed an increase ability of students from cycle I to cycle II and do not need to be continued in the next cycle.

Key Word:

Ability and Sentence Question

 

 

ABSTRAK

Permasalahan utama dalam penelitian ini rendahnya kemampuan siswa menggunkan kalimat tanya di kelas III SD N 2 Kaleke Kabupaten Sigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa menggunakan kalimat tanya melalui metode latihan di kelas III SDN 2 Kaleke. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang mengacu pada model penelitian yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc. Taggart yang terdiri atas empat komponen yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian siklus I diperoleh hasil ketuntasan belajar secara klasikal hanya mencapai 5,73%. Hal ini berarti bahwa tindakan pada siklus I belum berhasil. Sedangkan pelakasanaan siklus II diperoleh ketuntasan belajar klasikal mencapai 8%. Berarti pelaksanaan siklus II berhasil, karena persentase ketuntasan belajar secara klasikal sudah mencapai Kriteria Ketuntsan Minimal yakni 75. Dengan demikian kesimpulan penelitian ini adalah metode latihan memberikan dampak positif terhadap kemampuan siswa menggunakan kalimat tanya pada siswa di kelas III SDN 2 Kaleke yang terlihat dengan adanya peningkatan kemampuan siswa dari siklus I sampai pada siklus II dan tidak perlu dilanjutkan lagi pada siklus berikutnya.

Kata Kunci

: Kemampuan dan Kalimat Tanya

 

 

 

Era globalisasi yang didukung dengan teknologi serta informasi modern, membuat aktivitas dan mobilitas masyarakat semakin meningkat, sehingga dituntut peningkatan pengembangan ilmu dan teknologi, dengan didukung sumber daya yang berkualitas. Untuk mendukung perkembangan ilmu dan teknologi tersebut dibutuhkan sarana komunikasi, yaitu berupa bahasa, gerak-gerak anggota badan dan lambang-lambang yang dapat dimengerti dan dipahami oleh masyarakat. Komunikasi mempunyai peranan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari, sebab tidak akan mungkin orang akan memahami dan mengetahui keinginan atau kemauan orang lain tanpa menggunakan alat komunikasi berupa bahasa yang disepakati bersama.

 

Olehnya itu, untuk memudahkan dalam berkomunikasi dengan orang lain dibutuhkan pemahaman dari kedua belah pihak, yaitu dari pemberi pesan dan penerima pesan. Oleh sebab itu pada sekolah-sekolah perlu adanya pembelajaran di bidang bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi resmi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam tatanan kehidupan bernegara.

 

 

Manusia dalam kehidupannya membutuhkan bahasa sebagai piranti dan prasyarat dalam berkomunikasi. Bahasa mempunyai multiguna, seperti memberitahukan, memerikan, menjelaskan, menjawab, memberikan alasan, memberikan pendapat, menanyakan, dan mengekspresikan perasaan-perasaan internal seseorang. Bahasa mempunyai dua bentuk, yaitu bentuk bahasa lisan dan bentuk bahasa tulisan. Bentuk bahasa lisan terdiri atas dua, yakni berbicara dan mendengarkan sedangkan bentuk bahasa tulisan terdiri atas dua, membaca dan menulis.

 

Berdasarkan dua bentuk bahasa tersebut, penulis memilih satu bentuk bahasa yakni bentuk bahasa tulisan. Namun, pada bentuk bahasa tulisan kemampuan yang diteliti adalah kemampuan menulis dalam hal ini kemampuan siswa menggunakan kalimat tanya dalam proses belajar bahasa Indonesia pada tingkat sekolah dasar yang dilaksanakan di SDN 2 Kaleke.

 

Sebelum mengkaji inti dari penelitian yang akan diteliti terlebih dahulu perlu peneliti pahami apa itu kata tanya dan kalimat tanya, bagaimana bentuknya dan bagaimana penggunaannya dalam konteks kalimat tanya. Kata tanya adalah kata yang dipakai sebagai penanda pertanyaan dalam kalimat tanya. Bentuk kata tanya, yaitu; apa, mana, (dan gabungannya seperti siapa, bilamana, dsb) dan kapan. Kalimat tanya adalah kalimat yang mengandung intonasi tanya dan pada umumnya mengandung makna pertanyaan dalam ragam tulis biasanya ditandai oleh tanda tanya (?) dalam bahasa Indonesia ditandai oleh kah, apa, bagaimana,dsb. Oleh karena itu, untuk mengetahui kemampuan siswa SDN 2 Kaleke dalam menggunakan kalimat tanya secara tertulis, perlu dilakukan penelitian. Selain itu, karena berdasarkan pengalaman penulis selaku guru di sekolah tersebut bahwa siswa kelas III SDN 2 Kaleke memiliki kemampuan yang belum maksimal atau masih rendah dalam menggunakan kalimat tanya bahasa Indonesia secara tertulis.

 

 

Berdasarkan pengalaman yang ada, penulis selaku guru di sekolah tersebut ingin meningkatkan kemampuan siswa menggunakan kalimat tanya seperti apa yang dipaparkan di atas. Adanya masalah yang ditemukan bahwa siswa kelas III SDN 2 Kaleke belum mampu menggunakan kalimat tanya. Karena beberapa bentuk kata tanya dalam bahasa Indonesia belum mereka ketahui secara keseluruhan dan juga belum mampu menggunakannya dalam konteks kalimat secara keseluruhan dalam bentuk tertulis.

 

Masalah yang telah dikemukakan di atas, penulis mencoba mencari solusi yakni dengan cara menggunakan metode latihan. Karena penulis beranggapan bahwa dengan metode latihan kemampuan siswa menggunakan kalimat tanya dapat ditingkatkan dibandingkan dengan metode yang selama ini penulis gunakan seperti metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas di rumah.

 

 

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah melalui metode latihan dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan kalimat tanya di kelas III SDN 2 Kaleke?. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa menggunakan kalimat tanya di kelas III SDN 2 Kaleke melalui metode latihan.

 

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut: Sebagai upaya untuk meningkatkan pembelajaran yang bervariasi sehingga dapat menuntaskan permasalahan-permasalahan yang dihadapi di dalam kelas baik guru maupun siswa dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran. Mendorong siswa menggunakan hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dan dapat memberikan solusi mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam kegiatan belajar. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan pada kelas III Sekolah Dasar Negeri 2 Kaleke, khususnya pelajaran bahasa Indonesia.

 

Sebelum melakukan penelitian terhadap subjek yang akan diteliti terlebih dahulu perlu dipahami apa itu kata tanya dan kalimat tanya, bagaimana bentuknya dan bagaimana penggunaannya dalam konteks kalimat tanya. Furqon (2006: 73) menjelaskan bahwa "kata tanya adalah kata yang digunakan untuk menanyakan benda, barang atau seorang."

 

Chaer (2000: 182) mengemukakan "Kata tanya adalah kata-kata yang digunakan sebagai pembantu di dalam kalimat yang menyatakan pertanyaan. Kata tanya yang ada dalam Bahasa Indonesia adalah apa, siapa, mengapa, bagaimana, berapa, mana (di mana), kapan, bila, bilamana."

 

 

Sebagian besar dalam kehidupan masyarakat di Indonesia penggunaan Bahasa Indonesia dipengaruhi oleh bahasa daerah. Oleh karena itu, di beberapa daerah Bahasa Indonesia banyak digunakan sebagai bahasa kedua, dan yang lebih dominan dalam keseharian masyarakat menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar atau komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kondisi yang demikian tentunya Bahasa Indonesia akan sangat ditentukan atau dipengaruhi oleh beberapa kata dan dialek suatu daerah, tetapi untuk menjaga atau tercapainya suatu ukuran lafal bahasa Indonesia baku, sudah seharusnya ciri-ciri lafal atau kata-kata daerah itu jangan sampai terbawa serta ketika berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.

 

Dalam Bahasa Indonesia banyak menggunakan kata-kata serapan yang berasal dari bahasa daerah atau bahasa asing. Begitu juga dalam penggunaan kata tanya dalam kehidupan sehari-hari, mendapatkan serapan dari bahasa daerah yang sifatnya kata tidak baku. Misalnya kata mengapa menjadi ngapain. Hal ini akan berpengaruh terhadap pemahaman siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

 

 

Ketika memahami istilah kata tanya terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian kata. Furqon (2006: 60) menjelaskan "Kata adalah satuan yang dapat berdiri sendiri dengan makna yang bebas. Contoh asa, belajar, berlari-lari panjang, tanga." Kridalaksana (2005: 98) menjelaskan bahwa "Kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas."

 

"Satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri terjadi dari morfem tunggal (misalnya batu, rumah datang atau gabungan morfem)." Paerwadarminta (2002: 513), istilah kata diartikan sebagai berikut: "Kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam bahasa."

Selanjutnya, dalam penggunaan kata atau jenis menurut kaidah jenis kata, maka kata dibedakan menjadi dua, yaitu kata baku dan kata tidak baku. Furqon (2006: 60) mengemukakan bahwa "Kata buku adalah kata yang pengucapan ataupun penulisannya sesuai kaidah-kaidah standar atau kaidah-kaidah yang dibakukan. Kaidah standar itu adalah pedoman ejaan (EYD), tata bahasa baku dan kamus umum. Kata tidak baku adalah kata yang pengucapan atau penulisannya tidak memenuhi kaidah-kaisah standar, yang berlaku dalam tata Bahasa Indonesia.

 

 

Menurut Kridalaksana (2002:93), kata tanya adalah kata yang dipakai sebagai penanda pertanyaan dalam kalimat tanya. Misalnya Bahasa Indonesia apa, mana (dalam gabungan-gabungannya seperti siapa, bilamana)." Furqon (2006:73), menjelaskan bahwa "kata tanya adalah kata yang digunakan untuk menanyakan benda, barang atau seorang." Chaer (2000:182) mengemukakan "Kata tanya adalah kata-kata yang digunakan sebagai pembantu di dalam kalimat yang menyatakan pertanyaan. Kata tanya yang ada dalam Bahasa Indonesia adalah apa, siapa, mengapa, kenapa, bagaimana, berapa, mana (dimana), kapan, bila, bilamana."

 

Desain atau model penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas adalah satu rancangan penelitian yang diracang khusus untuk meningkatkan kualitas praktek pembelajaran di kelas. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu jenis penelitian yang dilakukan di dalam kelas melalui proses belajar mengajar oleh para peneliti dengan tujuan untuk memperbaiki mutu pendidikan.

 

 

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Kaleke, pada siswa kelas III dengan jumlah 15 orang siswa, terdiri atas 5 siswa laki-laki, dan 10 siswa perempuan. Dijadikannya kelas tersebut sebagai subjek penelitian karena tingkat kemampuan menggunakan kalimat tanya kelas III lebih rendah dibandingkan dengan kelas yang lain, yaitu dari 15 orang siswa hanya 2 orang yang dapat menggunakan kalimat tanya, tetapi kedua orang siswa tersebut masih perlu bimbingan dan arahan dari guru dalam hal kalimat tanya.

 

Jenis data yang digunakan dalan penelitian tindakan kelas ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif didapatkan melalui tes hasil belajar siswa dan hasil observasi guru (peneliti), sedangkan data kualitatif tidak berupa didapatkan dari hasil pengamatan yang dipaparkan secara deskriptif. Sumber data diperoleh dari guru dan siswa yang terlibat langsung dalam proses belajar mengajar. Pada penelitian ini peneliti memperoleh data dari hasil proses belajar mengajar, yaitu memberikan tes kepada siswa, dan lembar observasi pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

 

 

Sebuah penelitian tidak terlepas dari hasil penelitian itu sendiri. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis akan memaparkan hasil penelitian yang didapatkan dari lapangan, yakni hasil penelitian yang dilakukan di dalam kelas karena penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Adapun data yang diambil sebagai hasil penelitian ini, yaitu data hasil observasi guru dan observasi kegiatan anak pada siklus I, dan siklus II. Proses kegiatan pembelajaran guru memegang peranan penting dalam memilih metode, media atau, materi ajar, model, sarana dan prasarana pendukung yang tepat.

 

 

Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus dengan empat kali tindakan, pengamatan dilakukan selama kegiatan berlangsung baik pada siklus pertama maupun siklus kedua. Pada setiap timnakan dilakukan tahapan: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi. Keempat tahapan ini dapat dijelaskan sebagai berikut yang diawali dengan pratindakan.

 

Data hasil observasi kegiatan guru dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan guru (peneliti) dalam menyusun dan melaksanakan pembelajaran tentang menggunakan kalimat tanya di kelas III SD Negeri 2 Kaleke melalui metode latihan pada observasi awal. Seorang guru membutuhkan kesiapan pengetahuan dan mental dalam proses pembelajaran.

 

Hasil penelitian menunjukkan gambaran tentang kemampuan guru (peneliti) dalam melakukan proses pembelajaran melalui pengamatan dengan penilaian guru (teman sejawat) di kelas III SD Negeri 2 Kaleke. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa tidak ada satupun yang dinilai sangat kurang, Sementara nilai cukup ada 2, Nilai baik ada 10 dan Nilai sangat baik ada 10 kriteria.

 

Adapun hasil persentase setiap penilaian berdasarkan rumus diatas dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Tabel Presentase hasil observasi kegiatan guru siklus I

 

No

Nilai

Frekuensi

Presentase %

1

Sangat baik

10

45,45%

2

Baik

10

45,45%

3

Cukup

2

9,09%

Jumlah

22

100%

 

 

 

Dari persentase di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam kegiatan belajar masih perlu ditingkatkan karena hasil yang diinginkan belum tercapai atau belum sesuai target yang diharapkan karena persentase nilai pencapaian keberhasilan guru dalam mengajar masih sangat rendah, sehingga peneliti melakukan refleksi dan evaluasi mengenai kinerja tersebut untuk dilaksanakan pada siklus kedua. Observasi ini dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan dan pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan. Hasil kegiatan observasi siswa tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

 

 

Tabel Hasil Observasi Kegiatan Siswa Siklus I

 

No

Aspek yang dinilai

1

2

3

4

5

ket

1

Aktif mengikuti pelajaran di kelas

   

     

2

Aktif memperhatikan penjelasan guru

 

       

3

Aktif mengajukan pertanyaan

   

     

4

Kesungguhan mengerjakan tugas

   

     

5

tugasSikap siswa mengikuti pelajarn di dalam kelas

 

       

Jumlah

-

2

3

-

-

 

 

 

 

Dari hasil data observasi pada pembelajaran berlangsung dapat disimpulkan bahwa aktifasi siswa di dalam mengikuti pembelajaran masih kurang. Masih ada beberapa aspek yang perlu ditingkatkan. Untuk mengukur hasil observasi kegiatan siswa, dapat dilihat pada tabel frekuensi berikut:

 

 

Tabel Presentase Hasil Observasi Kegiatan Siswa Siklus I

 

No

Nilai

Frekuensi

Presentase %

1

Kurang

2

40 %

2

Cukup

3

60 %

Jumlah

5

100%

 

 

 

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa ada penilaian dalam ketgori kurang sebanyak 2 item dengan presentase 40 %, sementara kategori cukup sebanyak 3 item dengan presentase 60 %. Secara keseluruhan aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat dikatakan sudah cukup, karena mayoritas dari item yang menjadi observasi masi dalam kategori cukup, sehingga hal ini dapat menyebabkan hasil belajar siswa yang tidak maksimal pula. Untuk memperbaiki hal ini guru melakukan evaluasi kinerja dengan melakukan refleksi serta konsultasi dengan giuru mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas III SD Negeri 2 Kaleke mengenai hal-hal yang harus diperbaiki dalam kenierja peneliti selama mengikuti proses belajar mengajar, sehingga pada siklus berikutnya hal yang menjadi kelemahan peneliti dapat diantisipasi dan diperbaiki agar dapat melaksanakn proses pembelajaran lebih baik lagi.

 

 

Hasil observasi penilaian terhadap guru diperoleh gambaran bahwa pada siklus kesatu kemampuan guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran di kelas dinyatakan belum berhasil karena dari beberapa aspek yang dinilai diperoleh nilai cukup 2, nilai baik 10 dan sangat baik 10. Melihat masih ada komponen penilaian yang perlu diperbaiki, maka siklus kedua dilanjutkan dan diperoleh gambaran bahwa kemampuan guru (peneliti) dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan yakni dari komponen penilaian diperoleh tidak satupun yang dinilai kuranng atau cukup, 15 aspek dinilai baik dan 6 aspek dinilai sangat baik. Selanjutnya, pada penilaian siswa diperoleh nilai akhir dan total nilai rata-rata hasil evaluasi pembelajaran menggunakan kalimat tanya melalui metode latihan pada siklus pertama diperoleh gambaran bahwa siswa kelas III SD Negeri 2 Kaleke Kabupaten Sigi belum berhasil, karena nilai rata-rata siswa yaitu 5,73. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan pada siklus kedua, Adapun hasil penialain pada siklus kedua yaitu diperoleh nilai rata-rata sebesar 8. Dengan demikian, kemampuan siswa kelas III SD Negeri 2 Kaleke Kabupaten Sigi dalam menggunakan kalimat tanya melalui metode latihan sudah memenuhi ketentuan KKM di sekolah tersebut dan kemampuan siswa dapat ditingkatkan serta dikategorikan berhasil.

 

 

Hasil penelitian menunjukkan data kesimpulan bahwa kemampuan siswa di kelas III SD Negeri 2 Kaleke dapat ditingkatkan melalui metode latihan terhadap materi pelajaran yang disajikan khususnya kemampuan menggunakan kalimat kalimat tanya. Selanjutnya pada pembelajaran menggunakan kalimat tanya pada siklus I diperoleh nilai rata-rata sebesar 5, 73. Dari 15 siswa 3 orang yang mendapat nilai 7, 3 orang yang mendapat nilai 6, dan 8 orang yang mendapat nilai 5. Sedangkan nilai rata yang diperoleh pada siklus kedua yaitu sebsar 8. Dari 15 orang siswa 5 orang yang memperoleh nilai 9, 5 orang yang memperoleh nilai 8, dan 5 orang yang memperoleh nilai 7. Dengan demikian dinyatakan berhasil.

 

Peningkatan dan pembelajaran menggunakan kalimat tanya melalui metode latihan, peneliti mengemukakan beberapa saran bahwa dalam proses pembelajaran harus diterapkan secara berkesinambungan khususnya pada materi-materi yang mengharuskan siswa untuk melakukan latihan-latihan sebelum mengerjakan soal yang diberikan oleh guru agar hasil yang didapatkan lebih maksimal.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Chaer Abdul,. 2000. Tata Bahasa Praktis bahasa Indonesia. Jakarta; PT. Rineka Cipta.

Deti Syamrotul Fuadi, 2007. Ringkasan dan Bank Soal Bahasa Indonesia Untuk SD. Bandung ; Yrama Widya.

Furqon Ahmad, 2006. Kamus Pintar bahasa Indonesia Untuk SD. Bandung Epsilon Grup Anggota IKAPI.

Hapsa, 2007. Penerapan metode CTL Dalam Pembelajaran Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif. Skripsi tidak dipublikasikan. Palu : UnVIersitas Tadulako.

Kridalaksana Harimurti, 1996. Pembentukan Kata Dalam Bahasa Indonesia. Jakarat ; PT. Gramedia Pustaka Utama.

Suhendar, 1997. Bahasa Indonesia (Kebahasaan). Bandung; Pionir Jaya.

Poerwadarminta, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia, balai Pustaka.

Usman. H.B, 2006, Pedoman Penyusunan dan Penusunan Karya Ilmiah. Palu UnVIersitas Tadulako.

 

 

*Sri Wahyuni, S.Pd

*SD Negeri 2 Kaleke Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah

 

********

 

 

 

Dipost Oleh Super Administrator

No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.

Post Terkait

Tinggalkan Komentar